Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 2)

      Comments Off on Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 2)

             Melanjutkan tentang sejarah perkembangan kereta api di Semarang, kalian para  pecinta kereta api wajib tahu bahwa Kota Semarang menjadi bagian dari perkembangan kereta api di jaman Belanda dahulu. Kota Semarang menjadi titik perkembangan tiga perusahaan kereta terbesar saat itu, yang mengembangkan usaha kereta api secara swasta dan menjangkau beberapa kota besar di Jawa. Berikut adalah lanjutan dari daftar stasiun yang menjadi cikal bakal perkembangan jalur kereta api di Indonesia, khususnya pulau Jawa ;

STASIUN JURNATAN

Foto Sejarah Stasiun Jurnata, Semarang

Foto Sejarah Stasiun Jurnatan, Semarang

            SJS merupakan salah satu perusahaan swasta besar yang juga membangun berbagai rute jalur kereta di kota Semarang. SJS mulai membangun rute jalur untuk keretaapi dengan tujuan Semarang ke Juana yang melintasi daerah Demak, Kudus kemudian daerah Pati. Pembangunan yang dimulai pada tahun 1882 ini, berlanjut pada pembangunan rute menuju Blora dengan dua rute yang melalui Semarang-Purwodadi-Blora dan Semarang-Rembang-Blora. Ekspansi rute jalur berlanjut ke Cepu, yang kemudian diikuti dengan pembangunan Stasiun Joernatanweg yang saat ini terletak di jalan Agus Salim. Letak stasiun yang berada tepat di tengah kota membuaat stasiun tersebut sebagai Central Station.

          Sejarah Stasiun Jurnatan berawal dari jalan bernama Jalan Bojong (pinggir kota). Pada jalan tersebut terdapat banyak rumah landhuis yang cukup terkenal pada jaman tersebut. Rumah Landhuis merupakan model rumah jaman Belanda dimana rumah berukuran besar dan memiliki lading kebun yang luas. Awal pembangunan Stasiun Jurnatan hanya didirikan sebagai bangun kayu yang sederhana. Namun tahun 1913 menjadi tahun dimana stasun kayu tersebut akhirnya dibongkar dan didirikan sebuah bangunan baru yang lebih besar dengan konstruksi atap kaca dan baja dengan desain yang megah. Stasiun Jurnatan berada di akhir jaringan rel kereta api SJS, namun bangunan baru yang didirikan tidak bermodel stasiun ujung (terminus atau kopstation), dan justru bermodel stasiun paralel (stasiun dengan satu sisi memanjang sebagai pintu masuk utama yang memiliki peron-peron di seberang.

      Adapun Stasiun Jurnatan diberhentikan pada tahun 1974 dan semua kereta Demak dialihkan ke Stasiun Tawang. Pengalihan tersebut tidak berhenti pada hal tersebut saja, karena tidak lama kemudian seluruh kegiatan kereta SJS berhenti beroperasi karena tidak mampu bersaing dengan transportasi darat yang lain. Bekas stasiun Jurnatan sempat dialih-fungsikan sebagai terminal bus antar kota setelah beberapa waktu terlantarkan. Namun penggunaan area tersebut juga tidak berlangsung lama karena pada awal tahun 80’an area tersebut dibongkar yang kemudian dibangun ulang menjadi  sebuah kompleks pertokoan.

STASIUN PENDRIKAN

    

Generasi Awal Stasiun Indonesia

Stasiun Pendrikan Semarang pada masa penjajahan Belanda

            Sebagai stasiun ketiga (setelah Tambaksari dan Jurnatan) yang dibangun di Semanrang, Stasiun Pendrikan ditujukan untuk jalur menuju Cirebon.  Stasiun ini dibangun oleh SCS, sebuah perusahaan swasta yang mendapat konsesi untuk membuka jalur kereta api dari semarang ke Cirebon. Stasiun Pendrikan telah ada sejak 1897 bersamaan dengan pembangunan jalur itu. Disebut stasiun Pendrikan karena terletak di kawasan Pendrikan Lor, di sebelah utara jalan Indrapasta sekarang, tidak jauh dari perempatan Jalan Indraprasta, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Pierre Tendean yang ketika itu masih merupakan daerah pingiran kota.

           Jalan kereta api Semarang – Cirebon melulalui Pekalongan dan Tegal disebut juga “jalur gula” (Suikerlijn) karen pembangunannya semula untuk melayani tidak kurang dari 27 pabrik gula yang berada di pantai utara Jawa Tengah bagian barat. Jalur ini tadinya hanya jalur rel ringan yang dibangun di sisi jalan raya. Karena konstruksi yang ringan kecepatan maksimum kereta api hanya 35 km/jam. Tetapi antara 1912-1921 jalur ini ditingkatkan sehingga kereta api yang lebih cepat dan berat bisa melintasinya. Sejak itu jalur ini menjadi bagian yang penting hubungan rel antara Jakarta (Batavia), Semarang dan Surabaya.

Stasiun Pendrikan berfungsi sampai 1914 ketika stasiun SCS yang baru di Poncol selesai dibangun dan mulai beroperasi. Namun meski digunakan cukup lama, stasiun Pendrikan sebenarnya tidak layak disebut sebagai stasiun dan lebih tepat disebut sebagai halte. Memang stasiun ini sejak semula tidak dirancang sebagai tempat naik dan turun penumpang. Para penumpang SCS mengawali dan mengkahiri perjalanan mereka di stasiun Jurnatan milik Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

          Untuk mencapai stasiun Jurnatan kereta api SCS melalui jalur trem kota yang melintasi Bojong (Jalan Pemuda). Saat ini stasiun Pendrikan dan emplasemennya telah berubah menjadi daerah perumahan yang padat, sehingga tidak heran bahwa sedikit sekali warga Semarang yang tahu bahwa dulu di Pendrikan pernah ada stasiun kereta api.

           Nah, setelah mengetahui sejarah perkembangan kereta di Kota Semarang, gimana pendapat SobatKAI setelah tahu fakta tersebut? Kalau SobatKAI jadi ingin pergi ke kota Semarang untuk melihat peninggalan yang masih ada dari stasiun-stasiun yang disebutkan, nggak ada salahnya SobatKAI coba rasakan sensasi naik kereta ke Semarang untuk melakukan perjalanan “turn-back time” melihat sejarah yang ada di kota tersebut.

Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 1)

Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 3)

Kata Kunci Populer:

  • kereta jaman belanda
  • sejarah kereta api di semarang
  • Gunawan Duwi
5
Sending
User Review
0 (0 votes)