Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 1)

      Comments Off on Semarang, Salah Satu Kota Bersejarah dalam Perkembangan Transportasi Kereta Api (Part 1)

Mengulik sejarah perkembangan perkereta-apian Indonesia dari kota Semarang

            Bagi para pecinta kereta api, pasti sangat familiar dengan sejarah tentang kereta api yang ada di kota Semarang. Menurut sejarah perkereta-apian, Kota Semarang merupakan kota besar yang tidak dilayani Staatsspoorwegen (SS), jenis kereta yang berkembang di jaman Belanda. Kota Semarang menjadi satu-satunya kota besar atas hal tersebut. Namun, Kota Semarang secara khusus memperoleh layanan tiga perusahaan kereta api swasta terkemuka di masa itu: selain Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) serta Samarang-Joana Stoomstram Maatschappij (SJS). SJS memiliki jangkauan sekitar 400 kilometer, yang menghubungkan Semarang dengan Cepu dan Blora, melalui jalur Demak dan Rembang.

         Trem yang ada di kota Semarang juga berada di bawah naungan (SJS) yang menhubungkan kota Semarang dengan Jomblang – Bulu. SCS yang memiliki jangkauan sekitar 230 kilometer menjadi penghubung Semarang dengan Cirebon, melalui jalur Pekalongan dan Tegal. Sedangkan NIS memperluas jangkauan dengan membangun jalur lintasan kereta api ke Surabaya melalui jalur Brumbung, Gambringan, Cepu dan Bojonegoro dengan lebar sepur sekitar 1067 mm.

       Keadaan Semarang yang menjadi pusat bagi ketiga kereta api swasta tersebut menimbulkan problema tersendiri. Keadaan Semarang tersebut dapat disamakan dengan situasi perkeretaapian di Paris. Ketiga perusahaan itu memiliki jangkauan lintasan yang terpisah dan tidak berhubungan, namun secara tidak langsung lintasan kereta mereka terhubung. Ukuran kereta yang berbeda menjadi kendala tersendiri bagi lintasan yang ada, dengan 1435 mm NIS untuk jurusan Solo dan Yogya dan 1067 mm NIS untuk jurusan Surabaya, SJS dan SCS. Hal ini menimbulkan masalah pada penumpang dan juga barang yang diangkut. Karena jangkauan lintasan yang berbeda, Semarang memiliki begitu banyak halte (stasiun). Tercatat tidak kurang dari lima stasiun kereta api pernah berdiri di Semarang (belum termasuk halte trem Bulu-Jomblang).

STASIUN SEMARANG NIS (1867)

Sejarah Kereta Api Semarang

Stasiun Bersejarah Semarang di Jaman Belanda

                Menurut catatan sejarah yang ada, stasiun pertama yang di kota Semarang (yang dapat juga disimpulkan sebagai stasiun pertama di Indonesia) adalah stasiun yang terletak di Tambaksari, kelurahan Kemijen milik Semarang NIS. Stasiun tersebut mulai dibuka seiring dengan beroperasinya kereta api Semarang – Tanggung saat itu pada tahun 1867. Stasiun Samarang NIS adalah stasiun ujung (terminus, kopstation), dan biasanya berbentuk tapal kuda (U). Satu sayap stasiun dipergunakan sebagai akses ke gudang barang, sedangkan sayap yang lain sebagai akses bagi penumpang.

         Kebenaran stasiun Kemijen sebagai stasiun pertama yang beroperasi sempat dipertanyakan. Keraguan tersebut muncul karena terdapat beberapa sumber yang menyebutkan bahwa sebenarnya NIS tidak pernah mempunyai stasiun yang bernama Stasiun Kemijen. Fakta yang sebenarnya adalah stasiun yang dimaksud merupakan halte Kemijen (SJS), yang terletak dekat dengan stasiun Samarang NIS sebagai halte Kemijen yang berada pada jalur Semarang – Demak. Seiring dengan perkembangan kereta api, NIS akhirnya dirobohkan dan kemudian dibangun ulang sebagai jalur kereta menuju ke Tawang. Bahkan menurut informasi yang ada, sebagian stasiun Samarang NIS dirobohkan dengan tujuan agar dapat memasang rel kereta api menuju ke Tawang, sehingga hanya menyisakan gudang barang. Tempat tersebut sekarang lebih dikenal sebagai stasiun Semarang Gudang.

  • Maman Suriman
5
Sending
User Review
0 (0 votes)