Jejak Sejarah Yang Terlupakan Dari Stasiun Gambir Seri 1

      Comments Off on Jejak Sejarah Yang Terlupakan Dari Stasiun Gambir Seri 1

Bagi Anda kelahiran dekade 70 dan 80-an, mungkin masih sempat melihat desain arsitekur Stasiun Gambir era jaman kolonial, pasalnya masuk ke tahun 1990-an, Stasiun Gambir mengalami perubahan besar, bangunan lamanya 100 persen telah dihancurkan dan diganti dengan model stasiun ‘bertingkat’ seperti yang terlihat saat ini.

Padahal sebelum itu, ornamen Stasiun Gambir nampak begitu asri dengan keberadaan bangunan tua di sekitarya, sebut saja Gereja Immanuel, Gedung KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), Istana Negara dan Gedung Kesenian Jakarta.

Namun tuntutan jaman rupanya tak bisa dibendung, terlebih dengan lonjakan trafik perjalanan kereta, peningkatan pelayanan pada stasiun, dan upaya meredam kemacetan di Ibu Kota, maka wajah Stasiun Gambir berubah total.

Persisnya seiring pembangunan lintasan rel di atas (upper ground) antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Mangga Dua, maka otomatis Stasiun Gambir yang dilalui mengusung model Stasiun ‘bertingkat,’ wahjah baru Stasiun Gambir diikuti dengan stasiun-stasiun lain di Gongdangdia, Cikini dan Pangeran Jayakarta.

Merujuk ke sejarahnya, siapa sangka bahwa dibalik kokohnya Stasiun Gambir, ternyata sebelum dibangun sebagai pra sarana transportasi, daerah Gambir adalah tanah rawa dengan pemilik tanah tersebut bernama Anthony Paviljoen.

Kemudian tahun 1697 tanah ini dibeli oleh Cornelis Chastelein dan membangun sebuah rumah dengan dilengkapi dua kincir sebagai penggiling tebu. Cornelis diperkiran yang memberi nama tempat ini dengan sebutan Weltevreden yang berarti sangat puas.

Bagaimana jejak kisah selanjutnya ??